Tampilkan postingan dengan label gagasduet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gagasduet. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Menunggu


Judul : Menunggu
Pengarang : Dahlian & Robin Wijaya
Penerbit : GagasMedia, 2012
Tebal Buku : 304 halaman
Harga : Rp 46.000
Jenis Buku : GagasDuet

"Dia punya janji, mencintaimu saat ini. Aku punya hati, mencintaimu sampai mati."

---Last Chance---

Akhirnya, setelah tiga tahun lebih menetap di Melbourne, Risa kembali ke Indonesia. Kalau saja bukan karena Dhani, kakaknya, yang akan menikah, entah kapan ia berencana kembali ke negeri kelahirannya itu. Awalnya Risa hanya berencana untuk menghadiri acara pernikahan kakaknya itu lalu kembali ke Australia. Namun, setelah mengetahui bahwa Aby, sahabat Dhani sekaligus laki-laki yang paling dicintai Risa, ikut terlibat dalam mengurusi keperluan pernikahan, Risa dengan senang hati menjadi orang yang rela bersibuk-sibuk-ria mengurusi pernikahan Dhani. Sebenarnya Aby sempat menolak untuk bekerja sama dengan Risa karena yang mereka hadapi ialah pekerjaan yang mudah, hanya mengurus undangan dan souvenir. Tapi, Risa terus mendesak dan akhirnya mereka harus berkerja sama.

Selama mengurusi keperluan pernikahan kakaknya, Risa tidak henti-hentinya berusaha melelehkan sikap dingin Aby padanya. Banyak cara yang Risa lakukan. Mulai dari berpakaian seksi, mengambil hati Aby dengan berpura-pura menyukai anjing (walaupun pada akhirnya ia malah kesusahan karena gigitan anjing rabies), dan berbicara dengan nada yang lembut. Hal tersebut sia-sia karena Aby masih terus bersikap cuek padanya. 

Aby sebenarnya juga menyukai Risa, namun ia ingat ucapan Dhani bahwa ia tidak boleh memacari adiknya itu. Hal itu lah yang membuat Aby selalu menjauhkan diri dari Risa agar perasaannya tidak semakin berkembang. Ia tidak mau mengambil resiko berselisih dengan sahabatnya hanya karena mementingkan perasaannya.

Karena dinding pertahanan Aby tidak kunjung roboh, Risa akhirnya harus merelakan harga dirinya roboh dengan mengungkapkan perasaannya pada Aby. Tentu saja ia mendapat penolakan dari Aby. Tapi, setelah sekian lama, akhirnya Aby tahu kalau ucapan Dhani dulu tidaklah serius. Dhani tidak pernah mempermasalahkan apakah nantinya Aby menyukai Risa atau tidak. Tanpa menunggu lagi, akhirnya Aby menyatakan perasaannya dan mengakui kemunafikannya. Tentu saja ini membuat Risa sangat senang meskipun dia harus jatuh bangun terlebih dahulu untuk mendengar pernyataan Aby.


 
---Reason---

Gantar dan Lenka sudah berteman sejah masa kuliah, namun karena memilih masa depan yang berbeda, akhirnya mereka berpisah. Walaupun begitu, mereka berjanji untuk selalu berhubungan meskipun jarak mereka terpaut cukup jauh. Sekian tahun berlalu, Gantar berhasil menjadi seorang cameraman di sebuah stasiun televisi. Pada suatu siang, tanpa sengaja ia melihat acara berita di televisi dan mendapati bahwa pembawa acara berita tersebut adalah orang yang sangat dikenalnya, yakni Lenka. Bersamaan dengan kehadiran Lenka, perasaan yang dulu di rasakan Gantar kembali timbul.

Dengan berbagai informasi yang di dapatnya, akhirnya Gantar bisa kembali bertemu dengan Lenka. Lenka telah bertransformasi menjadi wanita yang elok namun tetap ramah seperti waktu dulu. Gantar tidak bisa mengelakkan perasaanya, ia masih sangat mencintai gadis itu.

Tapi sayang, harapan dan janjinya bersama Lenka berbalik menghantam Gantar. Lenka yang dulu masih sendiri, sekarang sudah bersama orang lain, Barata, seorang atasan Lenka di stasiun televisi tempat Lenka bekerja. Lenka di hadapkan pada dua kenyataan, yakni ia masih mengharapkan Gantar dan tidak bisa meninggalkan Barata yang selama ini ada untuknya.

Sabtu, 26 Januari 2013

Bittersweet Love



Judul : Bittersweet Love
Pengarang : Netty Virgiantini & Aditia Yudis
Penerbit : GagasMedia, 2012
Tebal Buku : 252 halaman
Harga : Rp 47.000
Jenis Buku : GagasDuet

"Cinta pun bisa tumbuh dari luka."


---Take It.---

Cerita pertama yang disuguhkan oleh Netty Virgiantini, menceritakan mengenai kehidupan Nawang yang berubah drastis ketika orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Pada awalnya, keluarga Nawang merupakan keluarga yang bahagia. Ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan semua kebutuhannya bisa terpenuhi. Semuanya menjadi berbeda ketika sang ayah berselingkuh dengan wanita lain dan diketahui oleh ibu Nawang. Mereka memutuskan untuk bercerai dan tidak memperdulikan Nawang yang saat itu betul-betul menentang keputusan mereka berdua. Sampai akhirnya, kedua orang tua Nawang resmi bercerai.

Tidak sampai disitu. Hati Nawang semakin hancur ketika mengetahui kedua orang tuanya memutuskan untuk menikah dengan pasangan baru mereka masing-masing. Ayah Nawang menikah dengan Tante Hesty, wanita selingkuhannya, yang memiliki satu orang anak laki-laki usianya, sedangkan ibunya, menikah dengan seorang arsitek kaya raya yang dulunya merupakan mantan pacar ibunya sewaktu masih kuliah. Dari pernikahan kedua ibunya, Nawang mendapatkan seorang saudara perempuan yang dua tahun lebih muda dari dirinya dari pernikahan ayah tirinya dengan istri pertamanya yang telah meninggal dunia bernama Joanna.

Semenjak itu, Nawang memilih untuk tinggal bersama ibu dan keluarga barunya di rumah yang lebih mewah dari rumahnya dulu. Sikap dan perilaku Nawang yang sekarang menunjukkan tanda ketidaksukaan pada ibu dan ayah tirinya serta Joanna, membuat keadaan semakin buruk. Nawang bahkan memilih untuk selalu makan diluar dibanding memakan masakan ibunya. Ia tidak lagi menganggap bahwa ia pernah dilahirkan dari perut wanita bernama Ajeng --ibu kandungnya-- Ia lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah dan makan di warung makan sederhana milik sepasang suami istri yang telah dianggapnya sebagai orang tua. Ibu Nawang sudah sering sekali meminta Nawang untuk mengubah sikap tidak bersahabatnya, tapi Nawang hanya menganggapnya angin lalu, ia tidak peduli. Ia terus berbuat kasar dan acuh pada keluarga barunya itu.

Kenakalan Nawang menjadi-jadi apalagi ditambah kegiatan barunya sehabis pulang sekolah, tawuran. Ia menjadi perempuan satu-satunya yang ikut dalam tawuran sekolahnya melawan sekolah lain. Bukan apa-apa, Nawang hanya ingin memberi pelajaran pada saudara tirinya yang lain, Hefin, karena sudah berani merebut kebahagiaan keluarganya, khususnya perhatian ayah kandung Nawang. Nawang selalu menjadi yang paling depan berhadapan dengan sekolah lawan tanpa memperdulikan keselamatannya, tentu saja incarannya adalah Hefin. Pernah suatu kali ketika Hefin dan Nawang tengah berhadap-hadapan, hendak saling menyerang satu sama lain dalam suatu ajang tawuran, tanpa sengaja, salah satu teman Hefin berhasil melukai tangan Nawang, padahal saat itu, Nawang yakin sekali kalau Hefin lah yang akan terkena batu tajam, sehingga ia tanpa sadar menyelamatkan Hefin. Hal ini mengundang kemarahan Artan, sahabat Nawang. Artan yang biasanya selalu bisa melindungi Nawang kali ini gagal. Nawang terlanjur terluka parah. Artan memarahi Nawang habis-habisan, walaupun sebenarnya Artan lebih marah pada dirinya sendiri yang tidak tepat waktu menyelamatkan Nawang. Setelah kejadian itu, hubungan Artan dan Nawang semakin merenggang. Mereka tidak lagi bertegur sapa ata mengobrol seperti biasanya.

Karena sebuah pertengkaran hebat dengan Joanna, akhirnya keputusan Nawang untuk meninggalkan rumah semakin bulat. Nawang akan meninggalkan rumah dan menetap di rumah kakeknya yang jauh dari kesibukan kota setelah lulus SMA. Maka dari itu, ia berjuang agar dapat lulus dan terlepas dari keluarganya yang menurutnya menyebalkan itu.

Hari yang diimpikan Nawang tiba. Ia dinyatakan lulus dan berarti bisa pergi meninggalkan rumah sesuai dengan janjinya dulu. Dengan mengendarai scoopy birunya, ia pergi ke rumah kakek. Rencananya Nawang akan berkendara sendiri, namun ketika ia hendak pergi, Artan dan Hefin telah menungguinya di depan rumah. Nawang tidak terlalu peduli, tanpa banyak bicara, ia melajukan motornya. Setelah berunding, Hefin memutuskan untuk mengikuti Nawang. Sesekali Nawang menambah kecepatan laju motornya, berharap Hefin tertinggal jauh, namun usahanya sia-sia. Hingga malam menjelang, Nawang akhirnya tiba di rumah kakek, dan Hefin memutuskan untuk kembali pulang.

Di rumah kakek, Nawang menemukan kedamaian yang selama ini hilang dari dirinya. Disana juga ia bisa menjernihkan pikirannya. Setelah dibujuk kakeknya, akhirnya Nawang mau untuk diajak ke tempat dimana ia bisa melupakan amarahnya. Kakek membawanya ke sebuah bukit yang sepi, lalu menyuruh Nawang berteriak sekeras-kerasnya. Perlahan rasa sakit yang dirasakan Nawang berganti menjadi rasa lega, apalagi setelah kakek menasihatinya dengan lembut. Tanpa disangka, seseorang sudah memperhatikannya sejak tadi. Dia adalah Hefin.

---Pulang.---

Joanna tidak pernah membayangkan kalau ayahnya akan secepat itu melupakan bundanya yang meninggal dunia karena kanker mata. Bahkan sampai sekarang ia masih sangat sedih dengan kepergian bundanya, tapi ayahnya malah menikah dengan wanita lain yang seakan ingin mengganti posisi bundanya. Belum lagi kakak perempuan tirinya yang selalu membuatnya ketar-ketir karena wajahnya yang selalu dingin. Bukan hanya itu, perlakuan Nawang, kakak tirinya, juga sangat kelewatan. Ini semua karena ayahnya yang tidak membiarkan Jo menyetir sendiri ke sekolah, akhirnya Jo harus mau berboncengan dengan Nawang ke sekolah. Perjalan ke sekolah akan sangat mengerikan karena Nawang tidak tanggung-tanggung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di sekolah, Jo harus rela memuntahkan seluruh sarapannya saking mualnya di ajak kebut-kebutan oleh Nawang.

Jo masih merasa beruntung karena memiliki Mike, kakak sepupu yang sangat dicintainya. Mike sangat mengerti Jo, apapun yang Jo mau, pasti akan di kabulkan oleh Mike. Tapi, karena kesibukannya sekarang, Jo harus menerima Mike yang sekarang tinggal berjauhan dengannya. Sering sekali Jo memohon agar bisa tinggal dengan Mike di Jakarta, tapi Mike tidak pernah menyetujui kemauan Jo yang satu itu.

Jo merasa hidupnya sangat menyedihkan, belum lagi karena ayahnya yang sekarang lebih memperhatikan ibu tirinya. Jo ingin pulang, pulang menemui ibunya, tapi niatan itu selalu diurungkannya. Jo juga bersikap dingin pada ibu tirinya, ia tidak sudi memanggilnya ibu atau apapun yang bisa membuatnya menggantikan bundanya.

Kesabaran Jo habis ketika pertengkaran hebat antara dirinya dan Nawang. Siang itu, Nawang terpaksa mengantarkan serabi titipan Artan, sabagai tanda minta maaf pada Nawang karena sempat memarahinya. Ini untuk pertama kalinya Jo masuk ke kamar Nawang. Sekali lagi ia memanggil Nawang, tapi tidak ada respon. Dengan sebal Nawang menghempaskan bungkusan yang di bawa Jo sehingga isinya jatuh berantakan. Nawang mendorong tubuh Jo dan berkata kalau Jo telah merebut semua yang dimilikinya. Mulai dari ibu sampai Artan, sahabat sekaligus satu-satunya orang yang disukainya. Awalnya Jo hanya diam, tapi akhirnya ia bereaksi dengan menantang Nawang untuk membunuhnya agar Nawang merasa puas. Ajang dorong mendorong pun tidak bisa dielakkan dan akhirnya Jo kembali ke kamarnya lalu mengemas barang-barangnya dalam sebuah ransel. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah.Tante Ajeng, ibu tiri, berusaha untuk menghalangi keputusan Jo, tapi sia-sia. Jo lebih kuat dan mendorong tubuh Tante Ajeng. Dengan mengendarai mobilnya ia menuju bandara dan memarkir mobilnya. Jo memanggil taksi agar dapat diantar menuju stasiun.

Setibanya di Jakarta, bukan sambutan senang yang di dapat Jo dari Mike. Mike menunjukkan raut wajah kecewa yang membuat Jo makin salah tingkah. Dalam hati ia mengutukki dirinya sendiri yang sudah menyusahkan banyak orang. Membuat ayahnya kecewa, Mike repot, dan menyakiti ibu tirinya. Jo benar-benar menyesal. Di tengah keputusasaan, sempat terlintas di pikiran Jo kalau ia akan menyusul bundanya pulang. Ya, pulang dalam arti yang berbeda. Syukurlah Mike dapat menyadarkan dan mengubah jalan pikiran Jo. Setelah sebelumnya mengunjungi makam bundanya, Jo memutuskan untuk benar-benar pulang. Pulang kepada keluarga barunya, dan membangun hidup yang baru.

Kamis, 17 Januari 2013

Truth or Dare




Judul : Truth or Dare
Pengarang : Winna Efendi & Yoana Dianika
Penerbit : GagasMedia, 2012
Tebal Buku : 304 halaman
Harga : Rp 48.000
Jenis Buku : GagasDuet

“Saat mencintai seseorang, apa pun kesalahannya, kamu tidak akan bisa begitu saja berhenti mencintainya.”

Hubungan persahabatan satu laki-laki dan dua perempuan sepenuhnya tidak ada yang tulus, begitu kata Heather pada Catherine di sebuah pesta dansa, tapi tentunya Catherine tidak mengindahkan perkataan gadis paling populer, sekaligus paling menyebalkan di sekolahnya. Catherine dan Alice adalah dua sahabat yang sangat kontras. Tidak seperti Catherine, Alice merupakan sosok pendiam dan kurang bisa berbaur dengan lingkungannya. Alice pengidap disleksia, sebuah gangguan pada diri seseorang yang menyebabkan pengidapnya kesulitan dalam mengolah kata. Hal ini juga lah yang menyebabkan Alice tinggal kelas dan terpaksa mengulang satu tahun. Cat, panggilan Alice pada Catherine, sebenarnya adik kelas Alice, namun karena masalah tadi mereka akhirnya bisa saling mengenal. 


Persahabatan mereka dimulai ketika Cat membela Alice yang sedang dipermalukan oleh pasangan ‘selebriti’ sekolah, Heather dan Dustin. Mereka mengolok Alice, namun gadis itu hanya tertunduk dalam diam. Cat yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya memukul Dustin agar bisa membuatnya berhenti mengolok Alice. Hal itu bisa membuat Dustin berhenti, tapi hukuman tetap harus dijalani Cat. Alice yang merasa tertolong sekaligus bersalah, berusaha meminta maaf pada Cat, tapi ternyata Cat tidak peduli, ia hanya ingin Alice sedikit berani. 

Persahabatan mereka berdua berjalan dengan sangat manis. Apalagi setelah kedatangan sosok Julian, siswa pertukaran dari Indonesia dengan kacamata dan kulit coklatnya, di antara Alice dan Cat. Mereka bertiga semakin akrab setelah mengerjakan sebuah proyek tugas dari guru sejarah mereka. Mereka semakin tidak terpisahkan. 

Waktu terus berganti, begitupun dengan perasaan masing-masing di antara mereka. Diam-diam Alice mengagumi sosok Julian yang mampu membuatnya merasa nyaman, selalu mendengarkan pendapatnya, menganggap dirinya ada. Namun Alice tidak mengungkapkan perasaannya itu, karena di saat yang bersamaan pula, Cat terlihat seolah menyukai sosok Julian. 

Pada akhirnya Cat dan Julian resmi berpacaran. Mereka berdua bahkan menjadi topik gosip terhangat di sekolah. Walau begitu, mereka terus mempertahankan hubungan persahabatan mereka bertiga. Cat dan Julian sering memaksa Alice untuk ikut menikmati waktu bersama, meminimalisirkan batas di antara Cat-Julian dan Alice. Alice meski meresa tidak enak, menghargai usaha Cat untuk tetap dekat dengannya. Mereka sering berjalan menikmati Belfast, kota kecil tempat mereka tinggal, bertiga. Menyusuri pantai sepi yang tidak jauh dari rumah, atau mengunjungi toko tempat Alice bekerja. Semuanya berjalan lancar, sampai suatu saat nenek Alice mendadak pingsn dan harus di larikan ke rumah sakit. Saat itu Alice benar-benar diliputi rasa cemas. Ibunya tidak bisa menolong banyak, karena Ibunya sendiri mengidap phobia apabila harus berada di lingkungan luar--Ibu Alice akan dilanda ketakutan yang luar biasa bila berada di tempat umum-- Alive menghubungi Cat, namun Cat tidak menjawab panggilan Alice. Pilihan kedua, Alice menelepon Julian. Mendengar nada bicara Alice yang terdengar panik, Julian langsung menemui Alice di rumah sakit. Sangat disayangkan, malam itu Julian memiliki janji dengan Cat. 

Cat yang menunggu Julian di sebuah cafe akhirnya tidak bisa bersabar lebih lama karena Julian tidak kunjung datang. Cat juga menyesali karena dia lupa membawa ponselnya. Cat akhirnya memutuskan untuk pulang. Di rumah, alangkah terkejutnya ia ketika mendapat pesan dari Alice. Tanpa babibu, dengan mengendarai mobil ibunya, Cat menyusul Alice ke rumah sakit. Sesampainya di sana, setelah melewati lorong-lorong gelap rumah sakit, Cat memergoki Alice dan Julian sedang berciuman. Emosi menjalar ke seluruh tubuh Cat. Julian berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, begitu pun Alice, tapi Cat tidak mau mendengar. Ia meninggalkan rumah sakit dengan hati yang masih kacau. 

Singkat cerita hubungan antara Cat dan Alice merenggang. Bahkan Cat tidak mengabari Alice kalau ia akan pindah ke kota lain. Di musim dingin yang tidak dilaluinya bersama Cat selama hampir dua tahun, Alice kembali ingin mengulang memori kebersamaannya dulu dengan Cat dan Julian. Alice pergi ke sebuah jurang yang tidak terlalu tinggi tempat mereka bertiga sering berbuat gila dengan menceburkan diri ke dalam air laut yang bersuhu rendah di musim dingin. Setelah melepaskan pakaiannya, Alice menceburkan diri ke dalam air. Sayang, ombak besar menggulung tubuhnya yang melemah, Alice meninggal dunia. 

Cat yang mendapat kabar mengenai kematian Alice merasa sangat terpukul. Ia yang biasanya berpakaian asal-asalan, pada hari pemakaman Alice terpaksa menggunakan pakaian yang sangat rapi, sesuai dengan janjinya dulu kepada Alice ketika sedang bergurau. Lihat Al, aku dress up hari ini. Aku menggunakan dress warna hitam dan high heels hitam yang kembar denganmu itu. Kau harus membayar ini semua, Al. Membayarku yang mau berpenampilan rapi di depan banyak orang. Al, aku dress up di waktu yang salah. Yah, waktunya salah, Al. Aku memenuhi permintaanmu untuk berpakaian rapi ketika menghadiri upacara pemakamanmu. Ini ironi kan, Al.