Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

London


Judul : London : Angel
Pengarang : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagasmedia, 2013
Tebal Buku : 330 halaman
Harga : Rp 52.000

 


Semua karena cita-cita Ning. Kalau bukan karena semua impiannya tidak berada di kota London, tempat dengan jarak bermil-mil dari Jakarta, Gilang tidak mungkin merasakan kegelisahan kalau-kalau sampai kehilangan gadisnya itu. Ning dan Gilang sudah bersahabat sedari kecil. Tidak ada batasan bagi mereka berdua, sampai entah kapan Gilang merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali ia bersama dengan Ning. Ada sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Mungkinkah cinta?
 
 
 
 
Karena hasutan dari teman-teman lelakinya, akhirnya Gilang nekat menyusul Ning ke London. Gilang sengaja tidak memberitahu Ning karena ia berharap gadis itu akan terkejut melihat kehadirannya. Ia hanya memiliki waktu lima hari di London dan itu akan dimanfaatkan oleh Gilang sebaik-baiknya untuk menyatakan perasaannya pada Ning.
 
Sesampainya di London, niat Gilang untuk langsung bertemu dengan Ning gagal. Gadis itu tidak berada di kediamannya karena urusan pekerjaan. Dengan kecewa akhirnya Gilang memutuskan untuk menuju penginapan yang sudah di pesannya, Madge, yang berada tidak jauh dari kediaman Ning.
 
Di Madge, Gilang berkenalan dengan salah seorang pelayan yang bekerja di sana, Ed. Dia adalah lelaki keturunan London-India sehingga ia tidak mirip dengan laki-laki London kebanyakan yang kaku, malah Ed tergolong sangat berisik. Ed mendorong Gilang untuk melihat London Eye di Southbank. Awalnya ia tidak berminat tapi akhirnya ia pergi juga ke sana. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis dengan paras menawan yang memaksanya menaiki London Eye. Entah mengapa Gilang yang sebenarnya tidak terlalu bersahabat dengan ketinggian menyetujui ajakan gadis itu. Rambut ikal yang indah, kulit putih yang bercahaya, mata biru yang cantik, dan bibir yang begitu menggoda gadis itu begitu menarik perhatian Gilang. Tapi, pertemuan itu tidak berlangsung lama. Gilang kehilangan jejak Goldilocks--ia memanggilnya begitu--seiring dengan semakin redanya hujan yang turun. Gadis itu meninggalkan payung merah miliknya.
 

Ning sangat menyukai seni. Perhatiannya pasti akan tersedot habis-habisan apabila berhadapan dengan lukisan, patung, dan seni lainnya. Tapi, ada sesuatu yang lain ketika Ning bertemu dengan Finn, seorang seniman yang ia kenal. Gilang menangkap sinyal kalau laki-laki itu berusaha merebut Ning darinya. Belum lagi karena rona merah di wajah Ning saat ia menatap Finn yang selalu muncul jika mereka sedang tenggelam berdua dalam dunia seni mereka, dimana Gilang tidak pernah menemukan rona merah yang sama ketika Ning bersama dirinya.
 
Dengan semua kejadian yang berlangsung selama lima hari di London, Gilang makin menyadari bahwa takdirlah yang membawanya pergi. Semua yang ia lakukan tidak sia-sia karena ia akan mendapatkan apa yang mesti di dapatnya dan melepas apa yang memang tidak bisa menjadi miliknya.



Jumat, 31 Agustus 2012

Floods 5



Judul : Keluarga Flood: Tersangka Utama (Floods 5: Prime Suspect)
Pengarang : Colin Thompson
Penerbit : Atria, 2007, 2009
Tebal Buku : 200 halaman
Harga : Rp 24.900
Jenis Buku : Fiksi ilmiah, Fantasi

Di buku kelima seri Keluarga Flood ini, anak-anak Flood harus dipusingkan dengan kedatangan mata-mata rahasia kakek mereka, Hearse Whispere, yang ingin menangkap mereka dengan sebuah rencana brilian yang akan tercatat dalam sejarah sebagai rencana tercerdik dan terlicik yang pernah ada. Hearse Whispere menamakan rencananya sebagai Rencana Profesor Belgia Yang MatiTujuan dari rencana ini tidak lain adalah untuk membuat Mordonna dan Nerlin, orang tua dari keluarga Flood, keluar dari persembunyian. Whispere akan meletakan mayat di Quicklime College, sekolah khusus penyihir di Patagonia dan membuat keadaan seakan-akan kelima anak keluarga Flood, Winchflat, Morbid, Silent, Merlinmary, dan Satanella yang bersekolah di sana dicurigai sebagai pembunuh.


Rencana Whispere ternyata berhasil, sehingga membuat kepala sekolah sihir memanggil FSI (semacam FBI-nya Amerika) untuk menyelidiki kasus ini. Grusom, sang legenda FSI terpilih untuk menyelesaikan kasus yang jarang terjadi ini, bersama dengan  asisten barunya yang pintar dan menawan, Avid. Tapi, karena rencana Whispere benar-benar brilian, Grusom pun mencurigai kalau Flood bersaudaralah pembunuh Professor Belgia yang mayatnya ada di sekolah sihir, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Whispere. 

Flood bersaudara bersembunyi di rumah salah seorang teman Winchflat, Lord Clacton, disebuah padang gurun yang terpencil di Afrika, dengan bantuan alat buatan Winchflat, zoomy thing. Disana mereka mengirimkan sinyal pada adik bungsu mereka, Betty, yang berada di rumahnya di Acacia Venue. Tapi sialnya, Mordonna tidak mengizinkan Betty untuk menyusul saudaranya yang lain. Ia lebih memilih untuk menjadikan dirinya sebagai alat pemancing untuk menjebak Whispere.


Dengan bantuan Chloe Of Clacton, banteng macho seberat 180 kg yang suka mengamuk (Chloe bisa menjadi sejinak anak kucing dan jatuh cinta pada Mordonna hanya dengan melihat mata Mordonna yang indah) , serta bantuan lima anaknya, Mordonna berhasil mengurung Whispere didalam botol kaca super yang transparan buatan Winchflat. Morbid dan Silent, anak kembarnya, menyelam ke dalam palung Mariana dan menyuruh peliharaan mereka, Twinkletoes (seekor gurita vampir yang lebih mirip sotong) , untuk menjaga botol berisi Whispere dan memakan semua hal yang berusaha mendekati botol itu. Hal ini dianggap tidak akan membahayakan manusia, karena Twinkletoes tinggal di kedalaman yang tidak sanggup dijangkau manusia. 


Kehidupan kembali normal. Kepala sekolah yang dari awal percaya kalau Flood bersaudara tidak bersalah juga merasa lega. Keluarga Flood berencana untuk berlibur, hal yang sama sekali belum pernah mereka lakukan. Bagaimana dengan Grusom? Ia menjadi gila dan tinggal di Rumah Pensiunan FSI, dalam ruangan yang ditutupi busa dan menghadap lahan pekuburan, sedangkan Avid asistennya, menikah dengan orang yang mapan, baik hati, dan bekerja di bank, sama seperti impiannya.

Secara keseluruhan novel ini agak sedikit tidak pantas untuk dibaca anak-anak, karena terlalu banyak hal menjijikan yang dibahas didalamnya, seperti katakombe penuh mayat yang berlendir, keadaan mayat yang dibunuh dengan sebelas cara berbeda, dan prose kloning 'mayat hidup' yang benar-benar menggelikan, tapi....aku suka jalan ceritanya yang ringan tapi tetap membuat penasaran, karena cara Colin membawakan ceritanya dengan hiperbola, sehingga membuat kita kadang bingung harus tertawa atau muntah.