Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Canting Cantiq


Judul : Canting Cantiq
Pengarang : Dyan Nuranindya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
Tebal Buku : 208 halaman
Harga : Rp 30.000
Jenis Buku : Teenlit

Melanie Adiwijoyo adalah cewek yang sempurna. Ia terlahir dengan wajah yang cantik, kulit putih, mata indah, dan tubuh yang langsing serta tinggi. Ia juga seorang putri tunggal pengusaha kaya. Mel, biasa ia dipanggil, juga pintar dan supel, memiliki banyak teman dimana-mana. Mel bercita-cita menjadi seorang model terkenal di Paris karena didukung kecantikannya yang bak bidadari.


Impiannya hancur seketika saat perusahaan perabot ayahnya bangkrut. Belum lagi ketika ayahnya mendapat serangan jantung dan meninggal dunia, Mel sangat terpuruk saat itu. Ia terpaksa tinggal bersama Eyang Santoso di Jogja. Awalnya ia sempat menolak tinggal di kota Jogja, tapi karena tidak ada pilihan lain akhirnya ia menurut. Eyang Santoso tidak tinggal sendiri. Ia adalah seorang pemilik kos-kosan terkenal di Jogja, yakni kos-an Soda (baca Cinderella Rambut Pink ;)). Penghuni kos-an itu juga beragam, ada Dara yang berpenampilan nyentrik, Jhony yang pede abis, Aiko yang wangi minyak telon, dan masih banyak lagi. Mel yang merasa derajatnya lebih tinggi dibanding penghuni Soda lainnya jadi sangat jutek dan tidak mau bergaul dengan mereka.

Satu orang yang menarik perhatian Mel adalah Bima, cowok pendiam dan pemalu di Soda. Mel putus dengan pacarnya sewaktu SMA karena ketahuan berselingkuh. Hal itu membuat Mel sedih, namun buru-buru bangkit dan tidak mau berlarut-larut. Mel bukanlah orang yang kaya lagi sekarang. Ia sadar harus mencari sebuah pekerjaan. Akhirnya ia bertemu sengan Aryati Sastra, seorang designer fashion yang tertarik dengan gaya berpakaian Mel yang modis.


Mel yang kurang percaya diri dengan desain awalnya malah dipuji oleh Aryati. Beliau bilang desain milik Mel sangat indah, perpaduan antar tradisional dan modern. Aryati yang kagu memutuskan untuk membuatkan sebuah acara peragaan busana rancangan Mel. Beberapa hari sebelum hari H, desain-desain milik Mel hilang. Pelakunya nggak lain adalah Karen, salah satu model Aryati yang iri melihat kedekatan Mel dan Bima. Mel hampir menyerah dan putus asa, namun Aryati terus mendukungnya dan menyuruhnya mengulang desainnya. Belum lagi semua penghuni Soda mau membantu khususnya Bima, Mel jadi tambah semangat dan berhasil membuat kembali desain-desainnya.


Hubungan Mel dan Bima juga pernah renggang, karena Mel merasa dibohongi oleh Bima. Mel juga bekerja di sebuah kafe sebagai pelayan bersama Bima. Bima yang mengaku hanya sebagai pelayan di kafe itu ternyata adalah pemilik kafe tempat Mel bekerja. Ia mengetahuinya dari percakapan para pelayan yang tidak sengaja ia dengar. Tapi, tidak bisa dibohongi perasaan Mel pada Bima, begitu  juga sebaliknya. Mereka akhirnya berdamai.

Pada suatu hari, Mel dijemput oleh pengacara ayahnya untuk bersekolh di Paris, tempat yang ia impi-impikan untuk didatangi. Disini Mel merasa senang tapi juga sedih. Senang karena pada akhirnya ia bisa mewujudkan mimpinya, namun sedih karena harus berpisah dengan keluarga barunya di Soda. Sehari sebelum keberangkatannya ke Paris, Bima memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Mel. Ia tidak meminta Mel untuk menjadi pacarnya dan menyuruh Mel untuk bersekolah saja dulu. Mel bisa pergi ke Paris dengan tenang.

Sepulangnya ke Indonesia, Mel sudah menjadi orang yang sukses dan memiliki label pakaian miiknya sendiri, Canting Cantiq, yang sangat digemari oleh masyarakat. 


“…tidak ada satupun kesuksesan yang dapat bertahan lama kalau manusia sudah mengeluarkan sifat sombongnya.” (Canting Cantik, 2009)

Jumat, 31 Agustus 2012

Floods 5



Judul : Keluarga Flood: Tersangka Utama (Floods 5: Prime Suspect)
Pengarang : Colin Thompson
Penerbit : Atria, 2007, 2009
Tebal Buku : 200 halaman
Harga : Rp 24.900
Jenis Buku : Fiksi ilmiah, Fantasi

Di buku kelima seri Keluarga Flood ini, anak-anak Flood harus dipusingkan dengan kedatangan mata-mata rahasia kakek mereka, Hearse Whispere, yang ingin menangkap mereka dengan sebuah rencana brilian yang akan tercatat dalam sejarah sebagai rencana tercerdik dan terlicik yang pernah ada. Hearse Whispere menamakan rencananya sebagai Rencana Profesor Belgia Yang MatiTujuan dari rencana ini tidak lain adalah untuk membuat Mordonna dan Nerlin, orang tua dari keluarga Flood, keluar dari persembunyian. Whispere akan meletakan mayat di Quicklime College, sekolah khusus penyihir di Patagonia dan membuat keadaan seakan-akan kelima anak keluarga Flood, Winchflat, Morbid, Silent, Merlinmary, dan Satanella yang bersekolah di sana dicurigai sebagai pembunuh.


Rencana Whispere ternyata berhasil, sehingga membuat kepala sekolah sihir memanggil FSI (semacam FBI-nya Amerika) untuk menyelidiki kasus ini. Grusom, sang legenda FSI terpilih untuk menyelesaikan kasus yang jarang terjadi ini, bersama dengan  asisten barunya yang pintar dan menawan, Avid. Tapi, karena rencana Whispere benar-benar brilian, Grusom pun mencurigai kalau Flood bersaudaralah pembunuh Professor Belgia yang mayatnya ada di sekolah sihir, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Whispere. 

Flood bersaudara bersembunyi di rumah salah seorang teman Winchflat, Lord Clacton, disebuah padang gurun yang terpencil di Afrika, dengan bantuan alat buatan Winchflat, zoomy thing. Disana mereka mengirimkan sinyal pada adik bungsu mereka, Betty, yang berada di rumahnya di Acacia Venue. Tapi sialnya, Mordonna tidak mengizinkan Betty untuk menyusul saudaranya yang lain. Ia lebih memilih untuk menjadikan dirinya sebagai alat pemancing untuk menjebak Whispere.


Dengan bantuan Chloe Of Clacton, banteng macho seberat 180 kg yang suka mengamuk (Chloe bisa menjadi sejinak anak kucing dan jatuh cinta pada Mordonna hanya dengan melihat mata Mordonna yang indah) , serta bantuan lima anaknya, Mordonna berhasil mengurung Whispere didalam botol kaca super yang transparan buatan Winchflat. Morbid dan Silent, anak kembarnya, menyelam ke dalam palung Mariana dan menyuruh peliharaan mereka, Twinkletoes (seekor gurita vampir yang lebih mirip sotong) , untuk menjaga botol berisi Whispere dan memakan semua hal yang berusaha mendekati botol itu. Hal ini dianggap tidak akan membahayakan manusia, karena Twinkletoes tinggal di kedalaman yang tidak sanggup dijangkau manusia. 


Kehidupan kembali normal. Kepala sekolah yang dari awal percaya kalau Flood bersaudara tidak bersalah juga merasa lega. Keluarga Flood berencana untuk berlibur, hal yang sama sekali belum pernah mereka lakukan. Bagaimana dengan Grusom? Ia menjadi gila dan tinggal di Rumah Pensiunan FSI, dalam ruangan yang ditutupi busa dan menghadap lahan pekuburan, sedangkan Avid asistennya, menikah dengan orang yang mapan, baik hati, dan bekerja di bank, sama seperti impiannya.

Secara keseluruhan novel ini agak sedikit tidak pantas untuk dibaca anak-anak, karena terlalu banyak hal menjijikan yang dibahas didalamnya, seperti katakombe penuh mayat yang berlendir, keadaan mayat yang dibunuh dengan sebelas cara berbeda, dan prose kloning 'mayat hidup' yang benar-benar menggelikan, tapi....aku suka jalan ceritanya yang ringan tapi tetap membuat penasaran, karena cara Colin membawakan ceritanya dengan hiperbola, sehingga membuat kita kadang bingung harus tertawa atau muntah.

Diary of a Wimpy Kid


Judul : Diary si Bocah Tengil (Diary of a Wimpy Kid) #1
Pengarang : Jeff Kinney
Penerbit : Atria, 2009
Tebal Buku : 216 halaman
Harga : Rp 34.900
Jenis Buku : Novel Kartun

Greg Heffley tidak berbeda dengan anak seusianya. Greg selalu bertengkar dengan kakaknya Rodrick, dan selalu diadukan oleh adik kecilnya Manny, ketika melakukan kesalahan. Tahun ini ia baru saja masuk sekolah menengah pertama, bersama sahabatnya Rowley Jefferson.


Ketika mendapat sebuah buku bertuliskan 'Diary' disampulnya, Greg buru-buru meluruskan kalau yang ia dapat adalah sebuah jurnal, jadi jangan berharap kalau dia akan menumpahkan seluruh isi hatinya dalam buku itu. Satu-satunya hal yang membuatnya setuju dengan gagasan ibunya itu adalah karena ia berpikir seandainya ia kaya dan terkenal, Greg tidak perlu repot-repot menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan sepanjang hari. Ia tinggal menyodorkan jurnalnya, dan masalah beres.

Greg memiliki seorang kakak bernama Rodrick Heffley yang memiliki band heavy metal bernama Loded Diper, dan ia seorang drummer dalam band itu. Sebenarnya Greg ingin sekali mengkritik ejaan nama band Rodrick, yang seharusnya ditulis Loaded Diaper, jadi jangan berpikir kalau mereka sengaja membuat nama band mereka terlihat keren, namun sesungguhnya mereka benar-benar tidak tahu cara mengejanya. Karena sering berlatih di rumahnya, ayah mereka, Frank Heffley, menjadi 'gila'. Ia tidak menyukai selera musik Rodrick, namun hal itu tidak diindahkan oleh Rodrick. Ibunya, Susan Heffley, sangat mendukung kegiatan putranya itu. Ia merasa kalau mereka bisa membuat band keluarga apabila Rodrick terus berlatih.

Manny, adik Greg, adalah pengadu besar. Misalnya saja saat ia masih belum bisa bicara, ia melihat Greg melakukan suatu kesalahan, tapi baru dua tahun kemudian, saat Manny sudah bisa bicara, ia mengadukan Greg pada ibunya sehingga Greg mendapat hukuman.

Sepenuhnya novel ini berisikan tentang kehidupan Greg yang tidak selalu menyenangkan (karena kebanyakan ia mendapat sial). Kemalangan dan kekonyolan akan membuat kita mengingat kembali kejadian serupa yang mungkin kita alami. Karena ditulis oleh anak kecil, tulisan didalam novel ini juga seperti tulisan tangan anak kecil, yang terkadang miring, tidak beraturan. Selain itu, gambar-gambar ilustrasi yang ada sangat lucu dan menggambarkan keadaan yang dialami oleh Greg. Cerita-cerita yang disuguhkan juga merupakan cerita sehari-hari yang ringan namun tetap menarik. Novel ini juga telah difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 2010, filmnya juga tidak kalah bagus dengan novelnya, walaupun ada bagian-bagian yang dihilangkan atau bahkan ditambah atau diganti.

Bagian favoritku dari novel ini..... semuanya! karena cerita yang disuguhkan berbeda-berbeda, tergantung dengan panjang pendeknya pengalaman yang dialami Greg, bisa dibilang ini semi-diary (?) misalnya saat Greg menjahili Manny dengan mengatakan kalau yang ada ditangan Greg adalah laba-laba, padahal itu hanya segumpal kecil benang kusut. Tapi sialnya, Manny menelan benag itu dan menangis sejadi-jadinya. Ketika ibu mereka datang dan menanyakan seberapa besar benang yang ditelan Manny sambil membawa biji-bijian, kismis, dan anggur untuk menjadi gambaran Manny, Manny malah berlari menuju kulkas dan mengambil sebutir jeruk. terus...terus...aaah banyak lah :D oh iya, serinya sudah sampai buku ke tujuh, tapi untuk Indonesia baru sampai lima, kalau nggak salah.

Ini beberapa gambar dari filmnya: