Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2016

Girls in The Dark


Judul : Girls in The Dark
Pengarang : Akiyoshi Rikako (2013)
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal Buku : 289 halaman
Harga : Rp 46.500
Jenis Buku : Fiksi, Misteri, Thriller


Novel ini bercerita tentang 7 orang gadis SMA Santa Maria yang tergabung dalam Klub Sastra. Setelah kematian sang ketua klub, Shiraishi Itsumi, yang begitu penuh teka-teki, para anggota lainnya diselimuti perasaan berduka yang mendalam. Sosok Itsumi yang mereka sangat berharga di mata mereka, harus pergi tiba-tiba dengan cara yang misterius-- mati terjatuh dari balkon dengan menggenggam bunga lili berwarna putih. Itsumi adalah gadis yang tidak terlihat seperti manusia, melainkan dewi, begitu kata hampir seluruh penghuni sekolah. Kecantikannya yang tidak wajar, perilaku yang anggun, serta penuh tata kerama, menjadikan sosok Itsumi begitu mencolok di antara siswi lainnya. Kematiannya yang seperti itu tentu saja menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ini murni kecelakaan? Atau bunuh diri? Karena apa? Lantas pesan apa yang ingin diberikan oleh Itsumi dengan bunga lili yang dipegangnya erat? Semua orang bertanya-tanya.

Anggota Klub Sastra yang kini diketuai oleh Sumikawa Sayuri, melakukan Yami-Nabe sekaligus mengenang Itsumi. Selain melakukan Yami-Nabe yang diperingati setiap tahunnya, Sayuri juga meminta para anggota membuat naskah singkat yang khusus dipersambahkan untuk Itsumi. Kelima anggota masing-masing membacakan naskahnya dalam ruangan klub yang sengaja dipadamkan lampunya, hanya memakai penerangan minim dari cahaya lilin. Satu per satu mereka membaca naskah, mulai dari anggota termuda Nitani Mirei, lalu Kominami Akane yang pintar membuat kudapan a la barat, Diana Detcheva si murid internasional berkewarganegaraan Bulgaria, Koga Sonoko yang bercita-cita menjadi seorang dokter, serta penulis muda, Takaoka Shiyo

Setelah mereka selesai membacakan naskah, kini giliran Sayuri yang membacakan naskahnya. Betapa terkejutnya kelima anggota yang lain ketika mendengar bahwa naskah tersebut adalah milik Itsumi, yang berisi bagaimana akhirnya mereka bisa bergabung dengan Klub Sastra yang diketuai Itsumi. Rahasia-rahasia mereka, dosa yang mereka lakukan, kesalahan fatal yang bisa membuat hidup mereka kacau jika sampai terdengar atau diketahui orang lain, semua diketahui oleh Itsumi. Naskah tersebut juga mengungkapkan rahasia milik Itsumi yang juga tidak diketahui oleh orang lain. Semua dibacakan dengan lancar dan tenang oleh Sayuri hingga selesai.

"Dia berbicara sambil meminum teh Earl Grey. Matanya yang tajam pun semakin melembut, dan bibirnya yang memikat pun makin lama semakin kalem..."

Wah, tidak terasa sudah satu tahun lebih saya tidak menulis, semoga kedepannya saya semakin sering memposting review buku di blog ini! chu~

Rabu, 23 April 2014

Hotel Majestic



Judul : Hotel Majestic (Peril at End House)
Pengarang : Agatha Christie (1932)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2013
Tebal Buku : 321 halaman
Harga : Rp 50.000
Jenis Buku : Misteri, Thriller


Ketika tengah berlibur di sebuah pulau yang indah, St. Loo, tanpa sengaja Hercule Poirot dan Hastings bertemu dengan seorang gadis cantik yang ramah dan riang. Ia sangat mudah berbaur dengan orang yang baru ditemuinya bahkan tidak canggung untuk mengobrol cukup lama dengan kedua pria lajang yang baru dikenalnya itu. Dia adalah Nick Buckley, pemilik End House, sebuah rumah tinggal peninggalan keluarganya.

Pertemuan mereka ternyata membawa fakta bahwa nyawa Nick sebenarnya terancam. Tiga 'kecelakaan' dalam seminggu yang hampir membuatnya tewas menarik perhatian Poirot, sehingga dia mulai melakukan investigasi. Menurut Poirot hal itu cukup ganjal dan malah membuatnya berpikir kalau ketiga kejadian itu merupakan percobaan pembunuhan terhadap Nick. Diawali dengan sebuah lukisan besar yang jatuh, batu besar yang menggelinding dan hampir menimpanya, serta rem mobilnya yang tiba-tiba tidak berfungsi. Namun Nick menganggap hal itu hanyalah kecelakaan dan tidaklah terlalu penting.

Selama melakukan penyelidikan, Poirot dan Hastings juga bertemu dengan para sahabat Nick. George Challenger yang tampan, Frederica Rice dengan wajah murungnya, dan Jim Lazarus seorang pedagang lukisan. Poirot terus mengingatkan Nick bahwa kejadian tersebut bukanlah kecelakaan sehingga Nick harus berhati-hati apabila tidak ingin nyawanya melayang.

Dengan mengikuti saran dari Poirot, akhirnya Nick mengajak saudara sepupunya, Maggie Buckley untuk menemaninya di rumah besar tersebut. Maggie menyetujui permintaan Nick dan memilih menetap di End House. Namun sayang, si pembunuh salah mengira. Ia menembak Maggie yang disangkanya sebagai Nick ketika Maggie tengah mengenakan syal merah milik Nick dalam sebuah pesta di End House dan membuat nyawa Maggie melayang. Melihat kejadian itu Nick sangat histeris sehingga harus di bawa ke rumah sakit untuk memulihkan kondisinya. Selama masa pemulihan, Poirot memerintahkan pihak rumah sakit untuk melarang semua kunjungan untuk Nick, siapapun itu kecuali dirinya.

Poirot dan Hastings seakan mendapatkan cahaya terang ketika mengetahui bahwa Nick bertunangan dengan Michael Setton, seorang penerbang pewaris kekayaan yang meninggal beberapa waktu yang lalu dalam penerbangannya. Tetapi hubungan ini sengaja disembunyikan oleh Nick karena tidak mendapat restu dari paman Setton. Poirot terus menyelidiki seberapa besar warisan Michael Setton dan kepada siapa warisan itu akan diberikan. Ternyata seluruh harta Setton apabila ia meninggal akan diwariskan pada Magdala Buckley yang tidak lain adalah nama asli Nick.

Jadi, adakah hubungannya? silahkan baca sendiri dan saya jamin kalian akan sangat tidak menyangka :)

Rabu, 24 Oktober 2012

If I Stay


Judul : If I Stay
Pengarang : Gayle Forman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2011
Tebal Buku : 200 halaman
Harga : Rp 35.000
Jenis Buku : Terjemahan

Salah satu novel mengharukan yang berhasil membuat saya lumayan terenyuh, tentang seorang gadis bernama Mia yang bisa dibilang hidupnya sempurna. Ia memiliki keluarga yang sangat disayanginya, walaupun terkadang dia selalu merasa berbeda dengan anggota keluarganya itu. Ayah, Ibu, dan adiknya, Teddy, semua bermata biru dan berambut pirang. Ketiganya juga menyukai musik-musik keras seperti rock dan heavy metal, yang sangat jauh berbeda dengan Mia. Ia memiliki mata coklat, rambut gelap, dan menggeluti cello sebagai pilihan selera musiknya. Belum lagi Adam, kekasihnya, yang juga seorang bintang rock di band Shooting Star.

Hidup Mia berubah drastis di suatu pagi bersalju ketika mereka sekeluarga ingin mengunjungi salah satu teman. Kecelakaan tragis merengut nyawa Ayah dan Ibunya seketika, begitu pun Teddy yang meski sempat di bawa ke rumah sakit, namun nyawa tetap tidak tertolong. Kondisi Mia saat itu juga sangat kacau, kakinya patah, organ dalam tubuhnya berantakan. Dengan sigap petugas medis menolong Mia dan membawanya ke rumah sakit. Butuh beberapa menit bagi Mia untuk menyadari kalau dirinya yang sekarang, bukanlah dia yang diangkut ke dalam ambulance, dia yang dibawa kerumah sakit, dia yang memiliki tubuh. Diri Mia yang sekarang adalah Mia yang tidak kasat mata, hanya berupa arwah.

Ditengah kebingungan, Mia dihadapkan pada dua pilihan sulit--tetap tinggal atau pergi--selama satu hari kita disuguhkan flashback kehidupan Mia, dari mulai ia bertemu Adam, berteman dengan Kim, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan hal-hal lain yang makin membingungkan Mia untuk memilih. Namun akhirnya, Mia menyadari betapa berharganya nilai kehidupan, ia memilih untuk tetap tinggal.

Kyaaaaa novel yang patut diacungi jempol deh, walaupun ceritanya jadi rada-rada mirip sama drama Korea, 49days, tapi yang beda Mia disini hanya satu hari untuk bisa kembali hidup. Secara keseluruhan novel ini jadi rekomen. Ada juga lanjutan dari novel ini, Where She Went.