Kamis, 17 Januari 2013

Runner-Up Girl


Judul : Runner-Up Girl
Pengarang : Hanna Natasha
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal Buku : 168 halaman
Harga : Rp 35.000
Jenis Buku : Teenlit

Novel yang menceritakan tentang Mira, gadis tomboi dari keluarga kaya raya, memiliki rambut keriting yang sama ambisius dan perfeksionisnya dengan sang Mama. Memang, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Karena hal itulah, Mira dituntut untuk selalu menjadi si nomor satu di segala bidang. Apabila tidak, Mamanya akan kecewa dan marah, begitupun Mira yang akan sangat sedih.

Mira berteman dengan Kelly, sahabatnya yang feminin dan berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Namun terkadang, Mira sangat merasa iri pada Kelly yang memiliki seorang Ibu yang penyayang dan lembut, berbeda dengan Mamanya. Tidak jarang mereka berkhayal agar dapat bertukar posisi sebentar saja. Kadang-kadang, Mira malah lebih memilih sarapan di rumah Kelly. Makanan buatan Ibu Kelly sangat enak, membuat Mira betah berlama-lama di rumah sederhana itu.

Mira dan Kelly bertemu dengan Riku, murid satu sekolah yang mereka temui ketika dalam perjalanan ke sekolah. Sejak hari itu, akhirnya mereka menjadi akrab. Seiring berjalannya waktu, timbul rasa sayang Riku kepada Mira, melebihi rasa sayangnya sebagai sahabat kepada Kelly maupun teman wanita mereka yang lain. Tanpa disangka ternyata Kelly malah jatuh hati Riku. Kelly sempat mengutarakan perasaannya itu pada Mira, tapi emang dasar Mira yang cuek, ia tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu.


Mira yang memang selalu dituntut untuk menjadi nomor satu mendapat halangan dari Aoi, murid bermata sipit yang menjadi saingannya dalam mendapat posisi nomor satu. Aoi adalah cowok yang cerdas, namun sikapnya yang selalu dingin pada Mira membuat Mira selalu saja kesal pada tingkah Aoi. Suatu waktu, sekolah mereka mengadakan pemilihan ketua OSIS tahun ajaran baru. Mira yang memang mendapatkan posisi ketua OSIS mati-matian agar bisa terpilih, namun sayang, ia harus bisa berbesar hati karena Aoi-lah yang terpilih sebagai ketua. Mira dengan berat hati menjadi wakil Aoi. Meski sering bekerja sama dalam kegiatan OSIS, tapi tetap saja hubungan mereka tidak pernah baik.

Pepatah yang mengatakan batu kokoh, apabila terus menerus terkena tetesan air, maka akan berlubang juga, ternyata terbukti pada kehidupan Mira. Pertemuan-pertemuan dengan Aoi, membuat Mira nyaman dengan adanya Aoi di sekitarnya. Sikap Aoi yang dingin, lama kelamaan semakin menghangat. Mira menaruh hati pada Aoi, meskipun Aoi seakan terus menghindar dari perasaan yang sama dengan perasaan Mira. Aoi merasa tidak pantas karena ia hanya seorang anak dari fotografer yang berpenghasilan pas-pasan. Ayah Aoi juga sering berpesan agar anaknya tidak terlalu sering bergaul dengan anak-anak orang kaya, apalagi menjalin kasih, karena akan hanya menebar luka.

Sebelum mengetahui bahwa Mira anak orang kaya, ayah Aoi sangat menghargai Mira. Ia membiarkan masuk ke dalam rumah, membuatkan makanan untuknya, dan membicarakan hal apa saja. Tetapi, sejak Mira membuatkan segelas teh resep keluarganya untuk di sajikan pada ayah Aoi, seketika perilaku ayah Aoi berubah 180 derajat. Hal itulah yang semakin memperjelas hubungan antara mama Mira dan ayah Aoi. Setelah di selidiki, akhirnya Mira tahu kalau Aoi adalah singkatan dari sebuah sanggar fotografi milik ayah Aoi, yakni sanggar Aku Orang Indonesia. Nama Aoi adalah Aoi Lucios. Lucios merupakan akronim dari Lulu Cinta Oscar, penggabungan nama mama Mira dan ayah Aoi. Ayah Aoi sangat membenci orang kaya karena mama Mira dulu mencampakannya, lebih memilih menikah dengan papa Mira, yang merupakan orang kaya. Selain itu, ayah Aoi juga sangat membenci dirinya sendiri, karena sudah sekian lama kejadian itu, tapi ia tetap mencintai mama Mira.

Karena pretasinya, Aoi mampu melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Tapi, yang membuat Mira sedih, Aoi tidak memberinya pesan sama sekali. Harapan untuk bertemu dengan Aoi yang membuat Mira kembali bersemangat. Mira percaya bahwa cinta akan mempertemukan mereka berdua, Mira juga berjanji untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan seperti yang diharapakan mamanya dan ayah Aoi dulu. Pada akhirnya, hubungan Mira dengan mamanya menjadi semakin dekat. Mamanya kini mengurangi intensitasnya bekerja dan lebih banyak meluangkan waktu untuk Mira. 

Idol Gagal



Judul : Idol Gagal
Pengarang : Indra Widjaya
Penerbit : Bukune, 2012
Tebal Buku : 308 halaman
Harga : Rp 38.000
Jenis Buku : Non Fiksi Komedi


Idol Gagal adalah buku perdana Indra Widjaya (@indrawidjaya) yang menceritakan segudang kegagalan yang ia alami hehehe... tercermin dari judulnya ‘kan? Di buku ini diuraikan semua pengalaman hidup yang dilalui Indra. Kisah hidupnya di bagi per bab dalam buku, mulai dari asal usul dirinya, kehidupan nomaden yang ia lakukan sejak kecil, kisah romantis kedua orang tuanya, kegagalan hidupnya, sampai mahluk-mahluk yang pernah dan sampai sekarang tinggal di rumahnya. Semuanya di ceritakan secara kocak dan menghibur. Tapi, ada satu bab yang bisa membuat mata berkaca-kaca atau bahkan sampai berurai air mata, yakni cerita tentang ayahnya, Pak Widjaya, seorang ayah yang menjadi inspirasinya. Secara keseluruhan, buku ini bisa dijadikan motivasi untuk terus bangkit dari kegagalan dan tidak berhenti mencoba. Kalau Indra bisa, kenapa kita tidak?


Salah satu bab membahas tentang peliharaan keluarga Widjaya. Tadaaaa ini dia Kellmo Widjaya, si kelinci playboy pemuja wanita penghina pria. Bahkan si Kellmo ini dibuatin account twitter khusus agar bisa merajalela di dunia maya -______- bisa dilihat avatarnya? yaaaap, playboy maksimal...

Indra Widjaya sekarang hidup bertiga dengan Adiknya, Ary Widjaya, dan Ibunya, Nyonya Syariah...

Truth or Dare




Judul : Truth or Dare
Pengarang : Winna Efendi & Yoana Dianika
Penerbit : GagasMedia, 2012
Tebal Buku : 304 halaman
Harga : Rp 48.000
Jenis Buku : GagasDuet

“Saat mencintai seseorang, apa pun kesalahannya, kamu tidak akan bisa begitu saja berhenti mencintainya.”

Hubungan persahabatan satu laki-laki dan dua perempuan sepenuhnya tidak ada yang tulus, begitu kata Heather pada Catherine di sebuah pesta dansa, tapi tentunya Catherine tidak mengindahkan perkataan gadis paling populer, sekaligus paling menyebalkan di sekolahnya. Catherine dan Alice adalah dua sahabat yang sangat kontras. Tidak seperti Catherine, Alice merupakan sosok pendiam dan kurang bisa berbaur dengan lingkungannya. Alice pengidap disleksia, sebuah gangguan pada diri seseorang yang menyebabkan pengidapnya kesulitan dalam mengolah kata. Hal ini juga lah yang menyebabkan Alice tinggal kelas dan terpaksa mengulang satu tahun. Cat, panggilan Alice pada Catherine, sebenarnya adik kelas Alice, namun karena masalah tadi mereka akhirnya bisa saling mengenal. 


Persahabatan mereka dimulai ketika Cat membela Alice yang sedang dipermalukan oleh pasangan ‘selebriti’ sekolah, Heather dan Dustin. Mereka mengolok Alice, namun gadis itu hanya tertunduk dalam diam. Cat yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya memukul Dustin agar bisa membuatnya berhenti mengolok Alice. Hal itu bisa membuat Dustin berhenti, tapi hukuman tetap harus dijalani Cat. Alice yang merasa tertolong sekaligus bersalah, berusaha meminta maaf pada Cat, tapi ternyata Cat tidak peduli, ia hanya ingin Alice sedikit berani. 

Persahabatan mereka berdua berjalan dengan sangat manis. Apalagi setelah kedatangan sosok Julian, siswa pertukaran dari Indonesia dengan kacamata dan kulit coklatnya, di antara Alice dan Cat. Mereka bertiga semakin akrab setelah mengerjakan sebuah proyek tugas dari guru sejarah mereka. Mereka semakin tidak terpisahkan. 

Waktu terus berganti, begitupun dengan perasaan masing-masing di antara mereka. Diam-diam Alice mengagumi sosok Julian yang mampu membuatnya merasa nyaman, selalu mendengarkan pendapatnya, menganggap dirinya ada. Namun Alice tidak mengungkapkan perasaannya itu, karena di saat yang bersamaan pula, Cat terlihat seolah menyukai sosok Julian. 

Pada akhirnya Cat dan Julian resmi berpacaran. Mereka berdua bahkan menjadi topik gosip terhangat di sekolah. Walau begitu, mereka terus mempertahankan hubungan persahabatan mereka bertiga. Cat dan Julian sering memaksa Alice untuk ikut menikmati waktu bersama, meminimalisirkan batas di antara Cat-Julian dan Alice. Alice meski meresa tidak enak, menghargai usaha Cat untuk tetap dekat dengannya. Mereka sering berjalan menikmati Belfast, kota kecil tempat mereka tinggal, bertiga. Menyusuri pantai sepi yang tidak jauh dari rumah, atau mengunjungi toko tempat Alice bekerja. Semuanya berjalan lancar, sampai suatu saat nenek Alice mendadak pingsn dan harus di larikan ke rumah sakit. Saat itu Alice benar-benar diliputi rasa cemas. Ibunya tidak bisa menolong banyak, karena Ibunya sendiri mengidap phobia apabila harus berada di lingkungan luar--Ibu Alice akan dilanda ketakutan yang luar biasa bila berada di tempat umum-- Alive menghubungi Cat, namun Cat tidak menjawab panggilan Alice. Pilihan kedua, Alice menelepon Julian. Mendengar nada bicara Alice yang terdengar panik, Julian langsung menemui Alice di rumah sakit. Sangat disayangkan, malam itu Julian memiliki janji dengan Cat. 

Cat yang menunggu Julian di sebuah cafe akhirnya tidak bisa bersabar lebih lama karena Julian tidak kunjung datang. Cat juga menyesali karena dia lupa membawa ponselnya. Cat akhirnya memutuskan untuk pulang. Di rumah, alangkah terkejutnya ia ketika mendapat pesan dari Alice. Tanpa babibu, dengan mengendarai mobil ibunya, Cat menyusul Alice ke rumah sakit. Sesampainya di sana, setelah melewati lorong-lorong gelap rumah sakit, Cat memergoki Alice dan Julian sedang berciuman. Emosi menjalar ke seluruh tubuh Cat. Julian berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, begitu pun Alice, tapi Cat tidak mau mendengar. Ia meninggalkan rumah sakit dengan hati yang masih kacau. 

Singkat cerita hubungan antara Cat dan Alice merenggang. Bahkan Cat tidak mengabari Alice kalau ia akan pindah ke kota lain. Di musim dingin yang tidak dilaluinya bersama Cat selama hampir dua tahun, Alice kembali ingin mengulang memori kebersamaannya dulu dengan Cat dan Julian. Alice pergi ke sebuah jurang yang tidak terlalu tinggi tempat mereka bertiga sering berbuat gila dengan menceburkan diri ke dalam air laut yang bersuhu rendah di musim dingin. Setelah melepaskan pakaiannya, Alice menceburkan diri ke dalam air. Sayang, ombak besar menggulung tubuhnya yang melemah, Alice meninggal dunia. 

Cat yang mendapat kabar mengenai kematian Alice merasa sangat terpukul. Ia yang biasanya berpakaian asal-asalan, pada hari pemakaman Alice terpaksa menggunakan pakaian yang sangat rapi, sesuai dengan janjinya dulu kepada Alice ketika sedang bergurau. Lihat Al, aku dress up hari ini. Aku menggunakan dress warna hitam dan high heels hitam yang kembar denganmu itu. Kau harus membayar ini semua, Al. Membayarku yang mau berpenampilan rapi di depan banyak orang. Al, aku dress up di waktu yang salah. Yah, waktunya salah, Al. Aku memenuhi permintaanmu untuk berpakaian rapi ketika menghadiri upacara pemakamanmu. Ini ironi kan, Al. 

Rabu, 24 Oktober 2012

If I Stay


Judul : If I Stay
Pengarang : Gayle Forman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2011
Tebal Buku : 200 halaman
Harga : Rp 35.000
Jenis Buku : Terjemahan

Salah satu novel mengharukan yang berhasil membuat saya lumayan terenyuh, tentang seorang gadis bernama Mia yang bisa dibilang hidupnya sempurna. Ia memiliki keluarga yang sangat disayanginya, walaupun terkadang dia selalu merasa berbeda dengan anggota keluarganya itu. Ayah, Ibu, dan adiknya, Teddy, semua bermata biru dan berambut pirang. Ketiganya juga menyukai musik-musik keras seperti rock dan heavy metal, yang sangat jauh berbeda dengan Mia. Ia memiliki mata coklat, rambut gelap, dan menggeluti cello sebagai pilihan selera musiknya. Belum lagi Adam, kekasihnya, yang juga seorang bintang rock di band Shooting Star.

Hidup Mia berubah drastis di suatu pagi bersalju ketika mereka sekeluarga ingin mengunjungi salah satu teman. Kecelakaan tragis merengut nyawa Ayah dan Ibunya seketika, begitu pun Teddy yang meski sempat di bawa ke rumah sakit, namun nyawa tetap tidak tertolong. Kondisi Mia saat itu juga sangat kacau, kakinya patah, organ dalam tubuhnya berantakan. Dengan sigap petugas medis menolong Mia dan membawanya ke rumah sakit. Butuh beberapa menit bagi Mia untuk menyadari kalau dirinya yang sekarang, bukanlah dia yang diangkut ke dalam ambulance, dia yang dibawa kerumah sakit, dia yang memiliki tubuh. Diri Mia yang sekarang adalah Mia yang tidak kasat mata, hanya berupa arwah.

Ditengah kebingungan, Mia dihadapkan pada dua pilihan sulit--tetap tinggal atau pergi--selama satu hari kita disuguhkan flashback kehidupan Mia, dari mulai ia bertemu Adam, berteman dengan Kim, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan hal-hal lain yang makin membingungkan Mia untuk memilih. Namun akhirnya, Mia menyadari betapa berharganya nilai kehidupan, ia memilih untuk tetap tinggal.

Kyaaaaa novel yang patut diacungi jempol deh, walaupun ceritanya jadi rada-rada mirip sama drama Korea, 49days, tapi yang beda Mia disini hanya satu hari untuk bisa kembali hidup. Secara keseluruhan novel ini jadi rekomen. Ada juga lanjutan dari novel ini, Where She Went.