Kamis, 16 Januari 2014

Pembunuhan ABC




Judul : Pembunuhan ABC (The ABC Murders)
Pengarang : Agatha Christie (1936)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal Buku : 344 halaman
Harga : Rp 45.000
Jenis Buku : Misteri-Thriller
 


Hercule Poirot, detektif terkenal di London, mendapatkan sebuah surat dari seseorang yang mengakui dirinya sebagai ABC pada suatu hari. Ia menunjukkan surat itu pada rekannya, Kapten Hastings, dan betapa terkejutnya Hastings ketika membaca surat tersebut. Sebuah surat dengan kertas yang cukup tebal dan terlihat mahal, serta tulisan meremehkan Poirot, seolah-olah dikirimkan oleh seseorang yang menaruh dendam padanya. Polisi London dibuat tidak berdaya ketika mendapati isi surat itu benar-benar terjadi. Berhatilah-hatilah terhadap yang akan terjadi di Andover pada tanggal 21 bulan ini, sebaris kalimat yang awalnya dianggap iseng belaka, ternyata menjadi sebuah malapetaka. Polisi belum sempat bertindak sehingga satu nyawa melayang di Andover. Orang malang itu adalah Mrs. Ascher. Hanya ada satu petunjuk yang ditinggalkan oleh sang pelaku, yakni sebuah buku panduan kereta api yang sering juga disebut ABC. Pembunuhan ini cukup menyulitkan polisi, tapi belum cukup menarik perhatian masyarakat.

Belum sempat kasus pertama terpecahkan, datang lagi surat tantangan dari ABC. Kali ini ia menetapkan Bexhill sebagai tempat ia mengincar korban selanjutnya. Polisi tidak tinggal diam. Mereka menyebarkan informasi mengenai ancaman pembunuhan ini dan meminta masyarakat dengan nama depan B untuk lebih waspada. Tapi sayang, polisi lengah. Jatuh lagi korban berikutnya. Seorang wanita muda bernama Elizabeth Barnard ditemukan tewas di tepi pantai. Lehernya di jerat oleh sabuk oleh seseorang. Dan lagi, buku panduan ABC tergeletak dekat dengan jenazahnya.
 

Kejadian ini memaksa Poirot berpikir lebih keras, meskipun pembunuhan ini masih akan terus berlanjut ke pembunuhan ketiga, keempat, dan seterusnya. Apa sebenarnya tujuan dari ABC yang melakukan pembunuhan secara acak dan sesuai abjad ini? Poirot berpikir dengan jalan yang berbeda dengan kepolisian. Ia berusaha memahami jalan pikiran si pembunuh dan motif ia melakukannya. Bukan seperti pihak kepolisian yang hanya mengandalkan bukti-bukti sebagai alasan mereka menangkap pihak yang dianggap paling sesuai sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Berdasarkan bukti inilah, polisi menangkap Mr. Alexander Bonaparte Cust, seorang veteran perang yang dianggap aneh dan kaku. Jauh dari kesan menarik yang selama ini dibayangkan oleh Poirot. Polisi sudah terlanjur memenjarakan Cust, namun pembunuh aslinya sudah melakukan kesalahan, yakni dengan berani menantang Poirot untuk membuka kedoknya. 

Menurut saya, sebagai pembaca pemula karya-karya Agatha Christie, novel ini sangat menarik. Kita benar-benar di ajak berpikir keras seperti Poirot untuk mengetahui siapa pembunuh ABC sebenarnya. Agatha Christie menciptakan karakter Poirot dengan begitu apik, membuat siapa pun yang membaca buku ini kagum akan pemikiran cerdas Poirot. Alur cerita yang tidak terburu-buru, dan latar tempat yang digambarkan Bagi saya, buku ini sangat istimewa.

Selasa, 14 Januari 2014

Menunggu


Judul : Menunggu
Pengarang : Dahlian & Robin Wijaya
Penerbit : GagasMedia, 2012
Tebal Buku : 304 halaman
Harga : Rp 46.000
Jenis Buku : GagasDuet

"Dia punya janji, mencintaimu saat ini. Aku punya hati, mencintaimu sampai mati."

---Last Chance---

Akhirnya, setelah tiga tahun lebih menetap di Melbourne, Risa kembali ke Indonesia. Kalau saja bukan karena Dhani, kakaknya, yang akan menikah, entah kapan ia berencana kembali ke negeri kelahirannya itu. Awalnya Risa hanya berencana untuk menghadiri acara pernikahan kakaknya itu lalu kembali ke Australia. Namun, setelah mengetahui bahwa Aby, sahabat Dhani sekaligus laki-laki yang paling dicintai Risa, ikut terlibat dalam mengurusi keperluan pernikahan, Risa dengan senang hati menjadi orang yang rela bersibuk-sibuk-ria mengurusi pernikahan Dhani. Sebenarnya Aby sempat menolak untuk bekerja sama dengan Risa karena yang mereka hadapi ialah pekerjaan yang mudah, hanya mengurus undangan dan souvenir. Tapi, Risa terus mendesak dan akhirnya mereka harus berkerja sama.

Selama mengurusi keperluan pernikahan kakaknya, Risa tidak henti-hentinya berusaha melelehkan sikap dingin Aby padanya. Banyak cara yang Risa lakukan. Mulai dari berpakaian seksi, mengambil hati Aby dengan berpura-pura menyukai anjing (walaupun pada akhirnya ia malah kesusahan karena gigitan anjing rabies), dan berbicara dengan nada yang lembut. Hal tersebut sia-sia karena Aby masih terus bersikap cuek padanya. 

Aby sebenarnya juga menyukai Risa, namun ia ingat ucapan Dhani bahwa ia tidak boleh memacari adiknya itu. Hal itu lah yang membuat Aby selalu menjauhkan diri dari Risa agar perasaannya tidak semakin berkembang. Ia tidak mau mengambil resiko berselisih dengan sahabatnya hanya karena mementingkan perasaannya.

Karena dinding pertahanan Aby tidak kunjung roboh, Risa akhirnya harus merelakan harga dirinya roboh dengan mengungkapkan perasaannya pada Aby. Tentu saja ia mendapat penolakan dari Aby. Tapi, setelah sekian lama, akhirnya Aby tahu kalau ucapan Dhani dulu tidaklah serius. Dhani tidak pernah mempermasalahkan apakah nantinya Aby menyukai Risa atau tidak. Tanpa menunggu lagi, akhirnya Aby menyatakan perasaannya dan mengakui kemunafikannya. Tentu saja ini membuat Risa sangat senang meskipun dia harus jatuh bangun terlebih dahulu untuk mendengar pernyataan Aby.


 
---Reason---

Gantar dan Lenka sudah berteman sejah masa kuliah, namun karena memilih masa depan yang berbeda, akhirnya mereka berpisah. Walaupun begitu, mereka berjanji untuk selalu berhubungan meskipun jarak mereka terpaut cukup jauh. Sekian tahun berlalu, Gantar berhasil menjadi seorang cameraman di sebuah stasiun televisi. Pada suatu siang, tanpa sengaja ia melihat acara berita di televisi dan mendapati bahwa pembawa acara berita tersebut adalah orang yang sangat dikenalnya, yakni Lenka. Bersamaan dengan kehadiran Lenka, perasaan yang dulu di rasakan Gantar kembali timbul.

Dengan berbagai informasi yang di dapatnya, akhirnya Gantar bisa kembali bertemu dengan Lenka. Lenka telah bertransformasi menjadi wanita yang elok namun tetap ramah seperti waktu dulu. Gantar tidak bisa mengelakkan perasaanya, ia masih sangat mencintai gadis itu.

Tapi sayang, harapan dan janjinya bersama Lenka berbalik menghantam Gantar. Lenka yang dulu masih sendiri, sekarang sudah bersama orang lain, Barata, seorang atasan Lenka di stasiun televisi tempat Lenka bekerja. Lenka di hadapkan pada dua kenyataan, yakni ia masih mengharapkan Gantar dan tidak bisa meninggalkan Barata yang selama ini ada untuknya.

Minggu, 31 Maret 2013

Summer In Seoul



Judul : Summer in Seoul
Pengarang : Ilana Tan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal Buku : 276 halaman
Harga : Rp 51.000
Jenis Buku : Metropop

Sandy atau Han Soon-Hee adalah gadis blasteran Indonesia-Korea yang sekarang menetap di Seoul untuk meneruskan pendidikannya. Kehidupannya mulai berubah ketika tanpa sengaja handphone miliknya tertukar dengan handphone Jung Tae-Woo --seorang artis terkenal di Korea-- yang saat itu dibawa oleh Kim Hyun-Sik, manajer Tae-Woo. Dengan terpaksa Sandy mendatangi kediaman Tae-Woo untuk mengambil kembali handphone-nya. Meski sudah terlalu malam, ia tetap memaksakan diri datang ke kediaman elit tersebut. Tanpa diduga, paparazi memergokinya dan mengambil fotonya bersama dengan Tae-Woo secara diam-diam.

Ketika foto mereka menyebar, gosip yang mengabari bahwa Tae-Woo seorang gay mulai berangsur hilang. Foto Tae-Woo dengan seorang wanita menyebarkan gosip baru bahwa Tae-Woo mempunyai seorang kekasih. Untunglah, wajah Sandy di foto tersebut tidak terlalu jelas, sehingga ia masih bisa bernafas lega.

Untuk benar-benar menghapus gosip gay dirinya, Tae-Woo meminta Sandy untuk berperan menjadi pacar rahasianya di foto. Sandy menyetujuinya, asal wajahnya tidak terlihat. Awalnya Tae-Woo merasa heran mengapa Sandy dengan mudahnya menyetujui permintaannya, tapi hal tersebut di tepisnya, melihat sikap Sandy yang apa adanya. Tanpa diketahui Tae-Woo, ternyata mereka memiliki masa lalu yang saling berkaitan erat.

Bukan hal mudah menyembunyikan rahasia ini dari orang-orang disekeliling Sandy. Sahabatnya sendiri adalah fans berat Tae-Woo, sehingga tahu semua gosip terbaru Tae-Woo. Ia juga sangat pandai 'membaca' perasaan Sandy. Ketika pada akhirnya sahabatnya tahu tentang hubungannya dengan Tae-Woo, sahabatnya juga berusaha sebisa mungkin untuk menutupi.



Karena kecerobohan ibu Tae-Woo, akhirnya identitas Sandy terbongkar. Ia tidak henti-hentinya dikejar oleh awak media, untuk meminta penjelasan dari Sandy. Setelah ditelusuri, akhirnya diketahuilah bahwa Sandy dan Tae-Woo saling berhubungan di masa lalu. Kakak Sandy, Lisa, adalah penggemar Tae-Woo. Empat tahun yang lalu, sebelum Tae-Woo come back, Lisa meninggal dunia karena tertabrak mobil yang ditumpangi Tae-Woo. Hal itulah yang membuat Tae-Woo stress dan menutup diri dari pers. Kini, luka masa lalunya kembali muncul seiring dengan kabar kedekatannya dengan Sandy. Terlebih lagi karena diam-diam Tae-Woo menaruh perasaan pada Sandy.


Dengan beban yang dipikulnya, Sandy memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia ingin meringankan pikirannya lagi setelah apa yang ia alami di Korea. Sialnya, ia mengalami kecelakaan sesaat sebelum ia terbang kembali ke Korea. Ia harus di rawat di rumah sakit dan koma beberapa hari. Mendengar kabar itu, Tae-Woo segera terbang ke Indonesia untuk menemui Sandy, padahal ia baru saja selesai mengadakan konser di negara lain. Hyun-Sik dibuat repot karena harus membatalakan dan mengaturulang jadwal Tae-Woo.

Sandy akhirnya sadar dan Tae-Woo-lah yang pertama kali ia lihat ketika membuka mata. Sandy benar-benar tidak menyangka karena Tae-Woo ada di depannya. Sambil bersusah payah, Sandy berkata "Aku merindukanmu."

Sabtu, 26 Januari 2013

Bittersweet Love



Judul : Bittersweet Love
Pengarang : Netty Virgiantini & Aditia Yudis
Penerbit : GagasMedia, 2012
Tebal Buku : 252 halaman
Harga : Rp 47.000
Jenis Buku : GagasDuet

"Cinta pun bisa tumbuh dari luka."


---Take It.---

Cerita pertama yang disuguhkan oleh Netty Virgiantini, menceritakan mengenai kehidupan Nawang yang berubah drastis ketika orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Pada awalnya, keluarga Nawang merupakan keluarga yang bahagia. Ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan semua kebutuhannya bisa terpenuhi. Semuanya menjadi berbeda ketika sang ayah berselingkuh dengan wanita lain dan diketahui oleh ibu Nawang. Mereka memutuskan untuk bercerai dan tidak memperdulikan Nawang yang saat itu betul-betul menentang keputusan mereka berdua. Sampai akhirnya, kedua orang tua Nawang resmi bercerai.

Tidak sampai disitu. Hati Nawang semakin hancur ketika mengetahui kedua orang tuanya memutuskan untuk menikah dengan pasangan baru mereka masing-masing. Ayah Nawang menikah dengan Tante Hesty, wanita selingkuhannya, yang memiliki satu orang anak laki-laki usianya, sedangkan ibunya, menikah dengan seorang arsitek kaya raya yang dulunya merupakan mantan pacar ibunya sewaktu masih kuliah. Dari pernikahan kedua ibunya, Nawang mendapatkan seorang saudara perempuan yang dua tahun lebih muda dari dirinya dari pernikahan ayah tirinya dengan istri pertamanya yang telah meninggal dunia bernama Joanna.

Semenjak itu, Nawang memilih untuk tinggal bersama ibu dan keluarga barunya di rumah yang lebih mewah dari rumahnya dulu. Sikap dan perilaku Nawang yang sekarang menunjukkan tanda ketidaksukaan pada ibu dan ayah tirinya serta Joanna, membuat keadaan semakin buruk. Nawang bahkan memilih untuk selalu makan diluar dibanding memakan masakan ibunya. Ia tidak lagi menganggap bahwa ia pernah dilahirkan dari perut wanita bernama Ajeng --ibu kandungnya-- Ia lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah dan makan di warung makan sederhana milik sepasang suami istri yang telah dianggapnya sebagai orang tua. Ibu Nawang sudah sering sekali meminta Nawang untuk mengubah sikap tidak bersahabatnya, tapi Nawang hanya menganggapnya angin lalu, ia tidak peduli. Ia terus berbuat kasar dan acuh pada keluarga barunya itu.

Kenakalan Nawang menjadi-jadi apalagi ditambah kegiatan barunya sehabis pulang sekolah, tawuran. Ia menjadi perempuan satu-satunya yang ikut dalam tawuran sekolahnya melawan sekolah lain. Bukan apa-apa, Nawang hanya ingin memberi pelajaran pada saudara tirinya yang lain, Hefin, karena sudah berani merebut kebahagiaan keluarganya, khususnya perhatian ayah kandung Nawang. Nawang selalu menjadi yang paling depan berhadapan dengan sekolah lawan tanpa memperdulikan keselamatannya, tentu saja incarannya adalah Hefin. Pernah suatu kali ketika Hefin dan Nawang tengah berhadap-hadapan, hendak saling menyerang satu sama lain dalam suatu ajang tawuran, tanpa sengaja, salah satu teman Hefin berhasil melukai tangan Nawang, padahal saat itu, Nawang yakin sekali kalau Hefin lah yang akan terkena batu tajam, sehingga ia tanpa sadar menyelamatkan Hefin. Hal ini mengundang kemarahan Artan, sahabat Nawang. Artan yang biasanya selalu bisa melindungi Nawang kali ini gagal. Nawang terlanjur terluka parah. Artan memarahi Nawang habis-habisan, walaupun sebenarnya Artan lebih marah pada dirinya sendiri yang tidak tepat waktu menyelamatkan Nawang. Setelah kejadian itu, hubungan Artan dan Nawang semakin merenggang. Mereka tidak lagi bertegur sapa ata mengobrol seperti biasanya.

Karena sebuah pertengkaran hebat dengan Joanna, akhirnya keputusan Nawang untuk meninggalkan rumah semakin bulat. Nawang akan meninggalkan rumah dan menetap di rumah kakeknya yang jauh dari kesibukan kota setelah lulus SMA. Maka dari itu, ia berjuang agar dapat lulus dan terlepas dari keluarganya yang menurutnya menyebalkan itu.

Hari yang diimpikan Nawang tiba. Ia dinyatakan lulus dan berarti bisa pergi meninggalkan rumah sesuai dengan janjinya dulu. Dengan mengendarai scoopy birunya, ia pergi ke rumah kakek. Rencananya Nawang akan berkendara sendiri, namun ketika ia hendak pergi, Artan dan Hefin telah menungguinya di depan rumah. Nawang tidak terlalu peduli, tanpa banyak bicara, ia melajukan motornya. Setelah berunding, Hefin memutuskan untuk mengikuti Nawang. Sesekali Nawang menambah kecepatan laju motornya, berharap Hefin tertinggal jauh, namun usahanya sia-sia. Hingga malam menjelang, Nawang akhirnya tiba di rumah kakek, dan Hefin memutuskan untuk kembali pulang.

Di rumah kakek, Nawang menemukan kedamaian yang selama ini hilang dari dirinya. Disana juga ia bisa menjernihkan pikirannya. Setelah dibujuk kakeknya, akhirnya Nawang mau untuk diajak ke tempat dimana ia bisa melupakan amarahnya. Kakek membawanya ke sebuah bukit yang sepi, lalu menyuruh Nawang berteriak sekeras-kerasnya. Perlahan rasa sakit yang dirasakan Nawang berganti menjadi rasa lega, apalagi setelah kakek menasihatinya dengan lembut. Tanpa disangka, seseorang sudah memperhatikannya sejak tadi. Dia adalah Hefin.

---Pulang.---

Joanna tidak pernah membayangkan kalau ayahnya akan secepat itu melupakan bundanya yang meninggal dunia karena kanker mata. Bahkan sampai sekarang ia masih sangat sedih dengan kepergian bundanya, tapi ayahnya malah menikah dengan wanita lain yang seakan ingin mengganti posisi bundanya. Belum lagi kakak perempuan tirinya yang selalu membuatnya ketar-ketir karena wajahnya yang selalu dingin. Bukan hanya itu, perlakuan Nawang, kakak tirinya, juga sangat kelewatan. Ini semua karena ayahnya yang tidak membiarkan Jo menyetir sendiri ke sekolah, akhirnya Jo harus mau berboncengan dengan Nawang ke sekolah. Perjalan ke sekolah akan sangat mengerikan karena Nawang tidak tanggung-tanggung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di sekolah, Jo harus rela memuntahkan seluruh sarapannya saking mualnya di ajak kebut-kebutan oleh Nawang.

Jo masih merasa beruntung karena memiliki Mike, kakak sepupu yang sangat dicintainya. Mike sangat mengerti Jo, apapun yang Jo mau, pasti akan di kabulkan oleh Mike. Tapi, karena kesibukannya sekarang, Jo harus menerima Mike yang sekarang tinggal berjauhan dengannya. Sering sekali Jo memohon agar bisa tinggal dengan Mike di Jakarta, tapi Mike tidak pernah menyetujui kemauan Jo yang satu itu.

Jo merasa hidupnya sangat menyedihkan, belum lagi karena ayahnya yang sekarang lebih memperhatikan ibu tirinya. Jo ingin pulang, pulang menemui ibunya, tapi niatan itu selalu diurungkannya. Jo juga bersikap dingin pada ibu tirinya, ia tidak sudi memanggilnya ibu atau apapun yang bisa membuatnya menggantikan bundanya.

Kesabaran Jo habis ketika pertengkaran hebat antara dirinya dan Nawang. Siang itu, Nawang terpaksa mengantarkan serabi titipan Artan, sabagai tanda minta maaf pada Nawang karena sempat memarahinya. Ini untuk pertama kalinya Jo masuk ke kamar Nawang. Sekali lagi ia memanggil Nawang, tapi tidak ada respon. Dengan sebal Nawang menghempaskan bungkusan yang di bawa Jo sehingga isinya jatuh berantakan. Nawang mendorong tubuh Jo dan berkata kalau Jo telah merebut semua yang dimilikinya. Mulai dari ibu sampai Artan, sahabat sekaligus satu-satunya orang yang disukainya. Awalnya Jo hanya diam, tapi akhirnya ia bereaksi dengan menantang Nawang untuk membunuhnya agar Nawang merasa puas. Ajang dorong mendorong pun tidak bisa dielakkan dan akhirnya Jo kembali ke kamarnya lalu mengemas barang-barangnya dalam sebuah ransel. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah.Tante Ajeng, ibu tiri, berusaha untuk menghalangi keputusan Jo, tapi sia-sia. Jo lebih kuat dan mendorong tubuh Tante Ajeng. Dengan mengendarai mobilnya ia menuju bandara dan memarkir mobilnya. Jo memanggil taksi agar dapat diantar menuju stasiun.

Setibanya di Jakarta, bukan sambutan senang yang di dapat Jo dari Mike. Mike menunjukkan raut wajah kecewa yang membuat Jo makin salah tingkah. Dalam hati ia mengutukki dirinya sendiri yang sudah menyusahkan banyak orang. Membuat ayahnya kecewa, Mike repot, dan menyakiti ibu tirinya. Jo benar-benar menyesal. Di tengah keputusasaan, sempat terlintas di pikiran Jo kalau ia akan menyusul bundanya pulang. Ya, pulang dalam arti yang berbeda. Syukurlah Mike dapat menyadarkan dan mengubah jalan pikiran Jo. Setelah sebelumnya mengunjungi makam bundanya, Jo memutuskan untuk benar-benar pulang. Pulang kepada keluarga barunya, dan membangun hidup yang baru.